Menu
Media Belajar

Aladin dan Lampu Wasiat Sampailah Aladin di mulut gua yang ternganga lebar. la masuk dengan keraguan. Kaki Aladin tidak sengaja menyentuh beberapa benda usang. Ada panci, sodet, piring, dan sebuah lampu tembaga. Aladin mengambil lampu tembaga tersebut dan mencabut sumbatan pada tutupnya. Lalu, muncullah asap tebal dari lubang lampu diiringi dengan suara tawa yang menggelegar. Aladin beringsut dari tempat duduknya karena ketakutan. Wajahnya pucat pasi dan badannya lemas tidak bisa bergerak. la hanya mampu bersandar pada dinding gua. Muncullah sosok berbadan besar dengan kulit serba hijau dari tengah asap. Matanya besar membelalak dan mulut yang menyeringai. Raksasa itu menatap tajam dirinya. "Apo yang Tuan inginkan?" tanya raksasa. "Jangan takut, Tuan. Saya Jin penunggu lampu. Terima kasih sudah membebaskan saya." Walaupun ragu, akhirnya Aladin memberanikan diri berbicara. "Saya lapar," ucap Aladin. Seketika raksasa berkata "Abrakadabra," maka dengan sekejap tersajilah makanan lezat di hadapan Aladin. Alangkah senangnya Aladin melihat aneka makanan lezat tersebut. "Makanlah Tuan, habiskan semuanya." Aladin menyantap seluruh makanan itu dengan lahap. Selesai makan, raksasa meminta kepada Aladin agar lampu selalu dibawa dan mengusap tiga kali jika menginginkan bantuan. Semenjak itulah Aladin berteman dengan Jin penunggu lampu tersebut. Sumber: dongengceritarakyta.com/kisah-aladinjin-dan-lampuwasiat/ diakses pada 23 Februari 2017, dengan penyesuian 2.2 Tuliskan watak tokoh Jin penunggu lampu dalam cerita tersebut!

Asal Mula Danau Toba Di suatu desa di Pulau Sumatera, ada seorang petani yang sangat rajin bekerja. Sehari-hari, Ia menggarap ladangnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, karena belum memasuki musim panen, sang petani pun pergi ke sungai untuk mencari ikan. Setelah menunggu cukup lama, petani pun mendapat banyak ikan. Saat sedang bersiap-siap pulang, dari kejauhan terdengar suara minta tolong. Petani pun segera menghampiri asal suara tersebut. Ia menemukan seorang putri yang kakinya terjerat kail pancing milik petani lain. Ia pun segera membantu sang putri. Putri pun berterima kasih kepada sang petani. Sang putri dan Petani akhirnya menjadi sebuah keluarga yang rukun. Sebelumnya, sang putri pernah berpesan kepada petani untuk tidak menceritakan tentang pertemuan mereka kepada siapapun, termasuk anak mereka nanti. Petani pun menyanggupi permintaan tersebut. Setelah beberapa tahun, mereka memiliki seorang anak laki-laki yang gagah. Ia dikenal sebagai anak yang patuh dan suka membantu kedua orang tuanya. Anak tersebut juga dikenal suka sekali makan dan selalu merasa tidak kenyang. Suatu ketika, anak tersebut minta oleh ibunya untuk mengantar makanan pada ayahnya yang sedang bertani di ladang. Ia pun mematuhi perintah ibunya dan bergegas menuju ladang. Namun, di tengah perjalanan, ia merasa sangat Iapar. Anak laki-laki itu pun memakan bekal makanan untuk ayahnya. Setelah merasa cukup kenyang, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia tidak jadi pergi ke ladang karena takut dimarahi oleh ayahnya. Sementara itu, telah lama menunggu bekal makanan yang tidak kunjung datang, ayah anak laki-laki itu pun kembali ke rumah. Ia ingin bertanya kepada ibu dan anaknya mengapa bekal makanan untuknya tidak diantar ke ladang. “Nak, di mana bekal makanan untuk ayah? Mengapa kau tidak mengantarkannya seperti biasa?" tanya sang ayah pada anaknya. Saat itu, di rumah hanya ada anak tersebut dan ayahnya. Dengan terbata-bata, anak itu pun menjawab bahwa bekal milik ayahnya sudah habis dimakan olehnya. Walaupun kesal, sang ayah hanya menghela napas. Ia pun duduk dan mencari makanan yang tersisa di meja. Ternyata, masih ada ikan di sana. "Syukurlah masih ada ikan untuk di makan. Rasanya sudah cukup lama aku tidak makan ikan sejak kejadian itu," gumam sang ayah. Melihat ikan tersebut, sang ayah kembali teringat tentang kisah pertemuannya dengan sang putri. Hal itu pun membuatnya ternyum sendiri. Sang anak tampak bingung melihat ayahnya hanya tersenyum sambil memandangi ikan yang akan dimakannya. "Mengapa Ayah hanya memandangi ikan itu sambil tersenyum" tanya anaknya. Sang ayah kemudian menceritakan kepada anaknya tentang kejadian saat ia dan ibunya bertemu untuk pertama kali. Sang ayah seketika lupa akan janjinya untuk tidak menceritakan kejadian itu kepada anaknya. Saat sedang tengah asyik bercerita, tiba-tiba terdengar suara hentakkan pintu. Ternyata, itu adalah ibu dari anak laki-laki tersebut. Sang ibu sangat terkejut melihat ayahnya yang sedang asylk bercerita kisah awal pertemuan mereka. "Mengapa kau melanggar janjimu" ucap sang ibu kepada ayah. Ayah dari anak laki-laki itu pun tak kalah terkejutnya saat melihat sang ibu yang sudah berada di dekat pintu. Ia pun segera meminta maaf karena telah melanggar janjinya. Namun, sang ibu sudah sangat sedih mengetahui hal tersebut. Ia hanya diam dan tak berkata apa pun. Kemudian, sang ibu mengajak anaknya untuk segera pergi dari rumah. Mereka berdua pun pergi dan meninggalkan ayah yang sedang menangis penuh penyesalan. Sang ayah berusaha menahan mereka untuk tetap tinggal, namun gagal. Kini, hal yang tersisa hanya jejak kaki anak dan ibu di depan pintu rumah. Lalu tiba tiba, dari bekas jejak kaki tersebut enyemburlah air yang sangat deras. Air itu pun terus keluar dan menyebar ke sekeliling rumah hingga akhirnya terbentuklah sebuah danau. Danau itulah yang dikenal sebagai Danau Toba. Sumber: Ghulam Pramudiana dalam http:www.ceritaanak.org/index.php/menu-cerita-rakyat/60-cerita-rakyat-asal-usul-danau-toba?showall= 1, diakses pada tanggal 11 Januari 2017, dengan penyesuaian 4. Mengapa tokoh tersebut dijadikan sebagai tokoh tambahan?

Asal Usul Nama Minangkabau Di suatu negeri di Pulau Sumatera, ada sebuah kerajaan yang cukup besar yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana. Suatu ketika, kerajaan tersebut didatangi oleh seorang peternak kerbau yang tinggal di perbatasan Pulau Sumatera. Sang peternak pun bergegas untuk bertemu Raja dan menyampaikan suatu hal penting kepadanya. "Paduka, hamba adalah rakyatmu yang tinggal di perbatasan pulau ini. Hamba jauh-jauh datang ke sini ingin menyampaikan suatu berita penting kepada Paduka Raja," ucap peternak kerbau. Raja pun mengizinkan rakyatnya untuk menceritakan kejadian yang dialaminya dan berusaha mendengarkan dengan saksama. "Paduka, suatu pagi di perbatasan, Hamba melihat ada sekelompok pasukan dari negeri seberang yang sedang bersiap untuk menyerang negeri kita. Jumlah mereka sangat banyak, Paduka," peternak kerbau menjelaskan. Mendengar cerita dari rakyatnya, Raja menjadi gelisah. Raja sangat tidak menyukai peperangan. la pun mencari cara untuk melindungi rakyat dan kerajaannya melalui jalan lain selain perang. Beberapa hari kemudian, perkataan peternak kerbau itu pun terbukti. Sekelompok pasukan dari negeri seberang pun datang ke kerajaan dan mengatakan ingin menguasai kerajaan yang makmur dan subur itu. Raja pun berusaha untuk tetap tenang menghadapi pasukan tersebut agar tidak terjadi peperangan. "Hai kalian pasukan asing! Jika kalian menginginkan kerajaanku, kalian harus mamatuhi syarat-syarat dariku. Jika syarat itu terpenuhi, aku akan menyerahkan kerajaanku dengan sukarela," ucap Paduka Raja. Setelah mendengarkan syarat dari Raja, mereka pun tersenyum dan menyanggupinya. Menurut pasukan asing, syarat dari sang Raja sangat mudah, yaitu hanya mengadu kekuatan kerbau. Mereka yakin bahwa saat adu kerbau nanti, pasukan mereka akan menang dan kerajaan pun menjadi milik mereka. Setelah melakukan beberapa persiapan, hari yang ditunggu pun tiba. Raja dan pasukan asing pun mulai memperlihatkan kerbau pilihan mereka untuk diadu. Pasukan asing membawa seekor kerbau betina yang sangat besar dan memiliki tanduk yang tajam. Sementara itu, dari pihak Raja hanya membawa seekor anak kerbau yang tampak lesu. Melihat kerbau milik sang Raja, pasukan asing tersebut tertawa terbahak-bahak. Mereka yakin bahwa kerbau besar mereka pasti akan menang. Namun, saat adu kerbau dimulai, anak kerbau milik Raja langsung menuju kerbau betina milik pasukan asing. Kerbau kecil tersebut tldak menyerang kerbau besar, melainkan hanya menyusu pada kerbau betina tersebut. Ternyata, sang Raja sudah mencanakan hal itu. Ia memilih anak kerbau yang kehausan untuk melawan kerbau betina yang besar milik pihak asing. Pihak asing pun sangat terkejut saat melihat kerbau miliknya hanya diam saat anak kerbau itu menyusu padanya. Setelah rasa hausnya hilang, anak kerbau itu meninggalkan kerbau betina yang emas setelah menyusuinya. Akhirnya, anak kerbau pun dinyatakan sebagai pemenang dalam perlombaan adu kekuatan kerbau. Pasukan asing pun menerima kekalahan mereka dan memutuskan untuk meninggalkan kerajaan tersebut. Sejak kemenangan itu, Raja memutuskan untuk menamai negeri tempat kerajaan mereka berada dengan nama Minangkabau. Kata tersebut ambil dari kata "Minang" yang berarti menang dan "Kabau "yang berarti kerbau. Dalam bahasa setempat jika digabungkan kata Minangkabau berarti kabau yang menang. Sumber: Ceria Rakyat Nusantara 9, Tim EFK, Penerbit Erlangga, dengan penyesuaian. 3. Bagaimana sifat dari tokoh protagonis?

R.A. Kartini lbu Kartini dilahirkan anggal 21 April 1879 di Jepara dengan nama Raden Ajeng Kartini. Setelah menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, namanya menjadi Raden Ayu Kartini. Sebagai seorang putri bangsawan dan anak seorang bupati, lbu Kartini dibolehkan bersekolah. lbu Kartini bersekolah sampai usia 12 tahun. Di sekolah ini, Kartlni kecil belajar bahasa Belanda. Setelah itu, seperti anak-anak perempuan lainnya, lbu Kartini harus tinggal di rumah sampai masa menikah tiba. Untuk menghilangkan kesedihannya, dia mengumpulkan berbagai buku ilmu pengetahuan untuk dibaca. lbu Kartini tidak berhenti belajar walaupun tidak diperbolehkan sekolah lagi. Dengan bahasa Belanda yang dikuasainya, lbu Kartini membaca banyak buku. Dia juga mengirimkan surat kepada teman-temannya di Belanda. Dari surat-suratnya itu dapat menggambarkan bahwa Kartini suka membaca dan menulis. lbu Kartlni mendapatkan dukungan dari suaminya untuk terus membagi pengetahuannya dengan teman-temannya. Ia mengajarkan ternan-ternan dan perempuan lainnya membaca dan menulis. Menurut lbu Kartini, dengan kemampuan membaca dan menulis, perempuan juga bisa memlliki kesempatan seperti laki-laki. lbu Kartini mengembuskan napas terakhirnya pada usia 25 tahun. Setelah lbu Kartini wafat, surat-surat yang ia tulis dikumpulkan dan dijadikan buku yang berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang". Buku ini telah dicetak berulang kali. Pemikirannya untuk memajukan perempuan Indonesia membuat anak-anak perempuan Indonesia dapat bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang sama seperti anak laki-laki. Kartini merupakan salah satu tokoh yang terkenal di Indonesia dan juga di Belanda. Bahkan, nama beliau dijadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Belanda, seperti di Kota Utrecht, Venlo, Amsterdam, dan Harleem. Sumber: Mirnawati, 2012 dalam buku "Kumpululan Pahlawan Indonesia Terlengkap" 2. Tuliskan gagasan pokok setiap paragraf!

No More Posts Available.

No more pages to load.